Temenan yuk.

Puasa udah masuk minggu ke-2, tapi badan tiba-tiba bermasalah. Punggung rasanya sakit tiap kali buat nunduk. Sakitnya nyalur ke dada, sampai susah buat nafas. Ini serius, bukan karena kurang makan ataupun kurang kasih sayang.

Apa ini karma karena kemarin abis nubruk bocah pakai sepeda onthel?

"Mbok coba diperiksain ke dokter, le", ibu ngasih saran buat periksa ke dokter. Ibu juga ngasih rekomendasi klinik yang jadi tempat biasa ibu periksa kalau lagi sakit.

Sehabis buka puasa, gue langsung berangkat ke klinik. Klinik ini lumayan gede, karena ada tempat buat foto rontgen sama ruang buat penanganan operasi kecil maupun sedang.

Gue masuk dan langsung ke bagian pendaftaran.

"Arif, mas. 22 tahun."

Srett...srett, gue dapet kertas pendaftaran dari mas-mas petugasnya. Dan begitu gue lihat kertas pendaftarannya gue langsung tau kalau masnya orang Sunda. Karena nama gue ditulis Arip, bukannya Arif.

Singkat cerita, gue konsultasi sama dokter dan ditanyain banyak banget.

Q: "Sebelumnya udah pernah jatuh, mas?"
A: "Belum, dok." Tapi kalau jatuh karena cinta udah berkali-kali. Fufufu

Q: "Badannya kurus. Punya penyakit tertentu, mas?"
A: "Nggak, dok. Bawaan dari kecil." Ini karena semua nutrisi di lambung diambil sama hati saya dok.

...

Di ruang rontgen ketemu sama mbak-mbak. Mbak-mbak yang sepanjang proses rontgen selalu teriak-teriak ngasih instruksi, seakan-akan gue ini manula yang pendengarannya udah berkurang.

"Mas Arif, ini dipegang ya?", serius waktu bilang ini si mbak bener-bener teriak di samping kuping.

"Relaks aja mas."

"Nanti kalau ada aba-aba, silahkan ambil nafas dalam-dalam terus ditahan ya, mas?"

Mau gue jawab pakai teriak, gue nggak enak kalau dikira petugas komdis yang tega bentak-bentak cewek.

Begitu proses rontgen selesai, gue disuruh buat nunggu di ruang tunggu. Ruang tunggu yang waktu itu entah kenapa banyak anak-anak yang pakai sarung.

"Ah iya, ini kan udah liburan. Musimnya potong burung", begitulah kira-kira hal yang terlintas di benak gue kala itu.

Sepanjang gue duduk nungguin dipanggil buat ambil obat, gue udah lihat dua anak kecil yang mau sunat dianter sama keluarga besarnya. Mereka berbondong-bondong dateng ke klinik, ada yang satu bocah ditemenin lima orang anggota keluarganya. Mereka datang pakai tiga motor, satu motor dinaikin tiga orang.

Yang terlintas di pikiran gue adalah, itu bocah nanti pulang dari klinik gimana? Masak iya satu motor buat bertiga lagi? Nggak kegencet?

...

Gue duduk di ruang tunggu sebelahan sama anak kecil yang kayaknya mau sunat juga, karena dia pakai sarung. Dia ditemenin bapak sama ibunya, si ibu duduk di sebelahnya sementara si bapak nungguin di tempat parkir sambil ngisep rokok.

Dia duduk sambil mainan game Cut The Rope di smartphone ibunya.

Selang beberapa menit si ibu pamitan buat ke toilet, dan gue pun iseng-iseng ngajakin si bocah buat ngobrol.

Ido: "Mau ngapain dek? Sunat?"
Bocah: *manggut-manggut diem*
Ido: "Nggak takut?"
Bocah: *senyum-senyum terus melengos ke arah lain*
Ido: "Sunat nggak sakit kok dek."
Bocah: *ngeliatin*
Ido: "Tapi pas abis sunat perihnya bukan main. Kalau burungnya kesenggol sarung aja perih. Buat kencing juga perih."
Bocah: *diem nunduk, nguntel-nguntel sarung*

Dari kejauhan terlihat ibunya jalan keluar dari toilet. Dan gue pun bergegas pindah ke bagian pengambilan obat. Daripada si bocah ngadu, terus gue juga disuruh sunat nemenin dia. Beruntung banget nama gue langsung dipanggil buat giliran ngambil obat. Gue ambil obatnya, langsung bayar dan buru-buru pulang.

Entah si adek tadi jadi sunat apa enggak.

Waktu itu hari ke-3 di bulan Ramadhan. Seperti biasa, aktivitas gue sehabis berbuka puasa adalah tiduran sebentar mencoba ngelurusin perut yang agak sedikit begah akibat terlalu maruk waktu buka puasa.

Jam 18.40 adzan mulai terdengar saling bersahutan dari segala penjuru arah, dan gue pun bergegas ambil air wudlu dan siap-siap berangkat tarawih.

Sebelum berangkat gue dihadapkan oleh sebuah dilema. Stok celana panjang lagi kosong karena dicuci semua dan yang ada tinggal sarung.

Jujur, gue kalau ke masjid jarang pakai sarung. Bisa dibilang ini adalah trauma gara-gara dulu waktu masih kecil, waktu masih agak badung, sarung gue pernah dipelorotin sewaktu tarawih.

Oke, karena yang tersisa tinggal celana panjang training buat olahraga, akhirnya gue terpaksa pakai sarung.

Gue keluarin sepeda onthel tua peninggalan simbah buat transportasi ke masjid. Sebelum berangkat, gue dihadapkan oleh sebuah dilema lagi...

Ini sarungnya harus diangkat "dicincing" apa dibiarin terurai begitu saja waktu naik sepeda?

...

Sesampainya di area parkir masjid, gue parkir sepeda onthel tuanya dan bergegas masuk ke masjid sebelum barisan shaf dua dipenuhin sama anak-anak kecil yang suka lomba kenceng-kencengan bilang amin.

Shalat Isya' berlalu berlanjut ke tarawih, everything's fine, everything's under control. Walaupun tiap abis salam dan berdiri gue selalu nyempetin buat benerin sarung. Karena sarung yang gue pakai waktu itu memang teksturnya agak licin, jadi tiap abis sujud iketan di pinggangnya pasti kendur sedikit demi sedikit.

Dan gue nggak mau ibu-ibu di barisan pertama nanti mendapat pemandangan tak senonoh seandainya sarung gue melorot di tengah-tengah shalat.

Singkat cerita, waktu kultum pun tiba, pak ustadz naik mimbar dan pak imam pun segera menempatkan diri duduk senderan di pinggir tembok tempat imam bersiap liyer-liyer dan tertidur dengan santai.

Salah satu hal yang bisa membuat kita terlihat normal untuk tertidur sewaktu dengerin kultum adalah menjadi tua dan menjadi mahasiswa tingkat akhir yang tiap malam nggak tidur karen ngebut skripsi maupun tugas akhir.

Ustadz menutup kultum dilanjut imam bacain niat puasa, pertanda tarawih malam itu sudah selesai. Disusul pertanda lain yaitu segerombolan bocah yang tiba-tiba jadi anarkis, saling dorong buat masuk masjid sambil ngacung-ngacungin buku tipis yang mereka bawa.

"Woi, jangan dorong-dorong!", sontak anak kecil yang perempuan.

"Woi, datang belakangan bukunya ditaruh paling bawah!", padahal begitu terkumpul semua, tumpukannya dibalik. LOL

"Woi, pinjemin pulpen, ustadznya kagak bawa pulpen!"

"Woi, tadz! Tanda tangan lima kotak sekalian ya?"

"Woi, tadz! Nerima calon mantu yang pas-pasan nggak?"

Teriakan terakhir tadi mungkin adalah teriakan seorang kaum piyambakan yang ingin segera mendapat hidayah.

...

Karena tarawih udah kelar, gue pun bergegas menuju tempat parkiran mengambil sepeda onthel gue. Yang ada di pikiran gue waktu itu adalah pulang cepet dan makan nasi anget pake lele goreng yang tadi sore digoreng ibu. Gue kayuh sepeda onthel gue, melewati beberapa ibu-ibu yang sama-sama baru pulang tarawih.

"Mari, budhe."

Note: sapalah setiap orang yang kalian lewati. Walaupun terkadang orang yang kalian sapa itu malah nggak nanggepin kalian dan lebih milih buat "melengos". Repotnya hidup di desa, disapa malah melengos, giliran nggak disapa marah-marah ngatain kita yang bisu atau apalah.

Lanjut gue kayuh sepeda onthel gue, sampai tiba-tiba terjadilah kejadian memalukan itu.

Karena sarungnya nggak gue angkat waktu naik sepeda, alhasil sarung yang terurai nyangkut di pedal sebelah kiri dan "nyerimpet". Kaki kiri gue terperangkap di pedal, terikat oleh sarung.

Gue panik.

Dan akhirnya "Bruukkk!", gue nubruk bocah yang lagi lari-larian di depan gue. Adik kecil itu jatuh ndeprok di tanah, untung nggak kejatuhan sepeda.

Gue tengok ke belakang, si ibu cuma berdiri melototin gue. Gue berdiriin si adik dan minta maaf kemudian pergi berlalu sambil berkata dalam hati "Besok tarawih tempat lain dulu sementara."

"Do, lihat tuh! Bening banget, bro!"

Kira-kira begitulah susunan kosakata dan kalimat yang sering dilontarkan oleh teman-teman ketika melihat cewek cakep lewat di selasar kampus, tentu saja sambil nunjuk-nunjuk kayak tukang parkir.

Gue punya dua pilihan di sini: 1) lari nyamperin cewek cakep tersebut terus bilang ke dia, "kamu cantik, mau nggak aku promosiin ke instagram bidadariUGM?", atau 2) diam dan bersikap santai. Gue memilih pilihan kedua, karena gue cupu dan gue nggak begitu ngerti gimana cara gunain instagram.

"Iya, nih bro akun facebook-nya. Cantik sih, tapi alay sama suka nyepam notification game di facebook," kata gue dengan santai sambil nunjukin akun facebook cewek yang dimaksud bak salesman yang lagi buka buku katalog barang.

Bisa dibilang ini kegiatan normal yang para jomblo lapuk sering lakukan ketika nongkrong di kampus.

Tertarik sama lawan jenis yang style-nya perfect abis emang bisa dibilang sesuatu yang normal. Tapi sebagai kaum cupu, kami cuma bisa tertarik doank tanpa bisa ngomong ke orangnya. Buat sekedar bilang "Hai!" aja mungkin gue bisa ngomong sambil gemeteran.

Gue. Sewaktu nyapa cewek.
Dan kalau secara nggak sengaja gue disapa sama cewek yang "menarik di hati"...

Ekspresi muka gue sehabis disapa sama adik angkatan yang cakep.
Karena nggak pernah berani ngomong langsung ke orangnya, jadi paling ujung-ujungnya cuma bisa dateng ke kost temen. Duduk, nyalain laptop, buka Facebook terus curhat sambil nunjukin profil cewek-cewek cakep yang ditaksir.

       "Ini nih cantik! Tapi kalau pakai jilbab, rambutnya kemana-mana."
       "Ini juga cantik, kalau pakai parfum baunya kayak kembang kantil deket perpus pusat."
       "Ini juga cantik nih, top dah! Masuk list UGM Cantik."

Iya, cuma bisa nunjuk-nunjuk foto di Facebook doank. Warbiasa! Super sekali.

Tapi kalau ngomongin soal seseorang yang berhasil menarik hati, gue nggak bakalan bisa lupa sama cewek yang berhasil membuat gue tertarik untuk pertama kalinya di bangku kuliah. Cantiknya dia, manisnya senyum dia sama sakit yang dia kasih, karena gue yang terlalu cupu buat bisa kenal lebih jauh sama dia sebelum akhirnya dia jadi milik orang lain.

Sebut saja dia si Neng, atau si Neng geulis karena dia orang Sunda.

Gue nggak perlu sebut nama. Buat kalian yang langsung paham, you know me so well lah pokoknya.

Ngomongin soal si Neng berarti kita harus terbang lagi ke masa lalu, masa di mana gue masih terlalu cupu buat jalan sendirian di kampus, masa di mana gue lebih memilih buat nahan kencing biar bisa kencing di rumah daripada harus jalan sendiri menuju kamar mandi kampus.

Makanya, di mana-mana yang namanya mengingat masa lalu itu yang ada cuma ingat sakitnya doank.

...

Gue termasuk salah satu orang yang nggak percaya sama istilah "Cinta pada pandangan pertama", karena semua yang instan itu nggak baik, gampang lembek kayak mie instan yang kelamaan direbus. Dan juga karena gue nggak begitu ingat kapan dan di mana pertama kali gue ketemu si Neng.

Yang gue ingat, kami selalu dipertemukan dalam keadaan yang tidak terduga. Mulai dari tikungan lampu merah K*C depan MIPA selatan, depan pos satpam, di sela-sela pagi gue yang terburu-buru karena terlambat masuk kelas dan bahkan di kerumunan mahasiswa yang penuh berdesakkan karena mau tukeran kelas.

Mungkin beberapa dari kalian bakal ngira kalau itu semua kelihatan so sweet karena kami selalu dipertemukan dalam momen yang tak terduga, tapi kalian salah.


Kami selalu ketemu dalam keadaan yang tidak terduga dan tidak tepat. Karena kami selalu dipertemukan ketika gue sedang dalam keadaan kucel, jelek dan acak-acakan sedangkan dia selalu kelihatan cantik dan manis.

Sebenarnya ini semua nggak ada hubungannya sama situasi, karena emang dari sananya gue udah kucel bawaannya.

...

Masa-masa semester satu, masa di mana gue masih bisa memandang setiap tatapan manis yang dikasih sama si Neng. Tatapan yang sampai sekarang belum bisa gue pecahin misterinya. Misteri Tatapan Si Neng, kurang lebih begitulah judulnya kalau ada yang kurang kerjaan mau mengangkat tulisan ini jadi sebuah sinetron.

Serius, buat seorang cowok item kayak gue, bisa punya pacar ataupun gebetan yang cantik, manis, berjilbab dan berkulit putih itu kayak makan martabak manis coklat keju terus sekarat karena keenakan, begitu bangun di rumah sakit dibawain martabak manis lagi, sekarat lagi dan begitu seterusnya.

Tapi semua berubah semenjak salah satu dari teman gue bilang ,"Do, dia ternyata udah jadian. Sama mas yg itu."

"Oh, yaudah," begitulah kira-kira reaksi gue waktu itu.

Sebetulnya gue pengen lari ke depan kampus dan nyundul gerobak gorengan yang ada di samping kopma sambil teriak "KENAPA!!??", kemudian teriak di muka abang penjualnya "Kenapa, bang? Kenapa abang naruh cabe di tengah risolnya? KENAPA?". Tapi akhirnya gue memilih buat bersikap cool karena warung gorengan samping kopma waktu itu belum buka.

Ada yang berubah semenjak waktu itu. Dulu sewaktu dia masih single, tiap kali lihat dia senyum rasanya kayak makan martabak manis spesial rasa coklat keju. Tapi sekarang, rasanya kayak makan martabak manis coklat keju yang mesesnya pakai meses abal-abal dan banyakan kejunya daripada coklatnya. Abis itu waktu makan masih dibisikin sama abang yang jualan "Tong, inget. Yang elu liat itu pacar orang. Inget, dia udah jadi pacar orang. Nggak enak 'kan rasanya?"

Iya sih, tetap martabak manis. Tapi bagaimanapun juga, rasanya tetap saja beda.

...

Waktu mungkin obat yang paling baik untuk semua luka.

Gue selalu bilang ke teman-teman gue, "Yang namanya perasaan harus diungkapin. Seperti ketika kalian gak sengaja kesetrum terus kalian ngucap 'Anjrit', 'Bajirut' dan lain sebagainya."

Akan tetapi, untuk cerita si Neng kali ini, mungkin gue akan bikin satu pengecualian. Karena ada kalanya sebuah rasa itu tidak harus diungkapkan. Seperti ketika kalian nggak sengaja menginjak tahi ayam. Yang kalian lakukan cuma belagak diam sambil ngusap-usapin kaki ke tanah tanpa harus teriak-teriak "Woi gue nginjek tai ayam woi! Sini bro, groufie dulu sama tai ayam!"

Mungkin, gue cuma perlu menemukan kebahagiaan-kebahagiaan kecil di antara semua barisan cerita ini.

...

Mungkin besok-besok gue juga bakalan cerita (red: curhat) tentang perjalanan cinta gue yang lainnya, biar kalian bisa tahu seberapa fakirkah gue dalam hal percintaan. Yang berakhir penasaran, berakhir dengan keihklasan atau yang sampai sekarang belum jelas gimana akhirnya? Any ideas?

Wi-Fi. Wi-Fi everywhere.

Sekarang udah nggak jaman yang namanya nongkrong buat nyari gebetan. Sekarang, nongkrong di cafe yang dicari cuma wifi, nongkrong di toko buku juga nyari wifi. Gue suka sama orang yang tiap kali nongkrong pasti nyari wifi, karena mereka adalah orang yang masih percaya kalau jodoh ada di tangan Tuhan.

Termasuk gue sendiri.

Kalau boleh jujur, jaman sekarang siapa sih yang nggak kenal wifi? Mulai dari anak SD yang anunya masih sering kejepit resleting sampai mas-mas mahasiswa tingkat akhir yang sampai sekarang masih jomblo, pasti tahu yang namanya wifi.

Pantesan sampai sekarang gue masih jomblo, karena gue masih suka mainan wifi bukannya mainan cewek. Ah, tapi cowok sejati itu nggak pernah mainin... ah, itu kan cuma kutipan yang suka dishare orang galau di Facebook.

Jadi, pada kesempatan yang penuh rahmat dan hidayah ini kita bakalan sedikit ngobrolin tentang mereka yang suka atau mereka para maniak wifi di kampus-kampus. Semoga para pelaku netcut pantatnya nggak kedutan gara-gara gue lagi ngomongin mereka di sini.

Kalau ada sebutan "tebal muka" buat orang yang nggak tahu malu, mungkin sebutan yang pantas untuk para maniak wifi di kampus yang nggak tahu waktu adalah "tebal pantat".

Pokoknya salut deh buat mereka. Di saat yang lain pada sibuk mempermasalahkan penampilan buat nyari gebetan, mereka tetap sibuk mempermasalahkan IP address guna mendapatkan sambungan Wi-Fi yang memadahi.

Oke, dan inilah mereka. Siapa tahu kalian juga salah satu dari mereka...

1. Pendiem atau penyendiri


Tipe kayak gini biasa ditemuin lagi duduk sendirian di selasar kampus, menatap layar laptop yang brightness-nya terlalu over dengan tatapan yang kosong. Tipe yang lebih memilih bertapa di pojokan kampus ketimbang duduk bareng temen lainnya. Mereka adalah mahasiswa yang datang tanpa suara, pergi juga tanpa suara. Dan mereka pasti pulang dengan meninggalkan tanya di benak teman-teman mereka...
Itu anak tadi kemana?
2. Vokalis wannabe


Wifi-an rasanya nggak enak kalau cuma duduk diem mantengin laptop. Maka dari itu, nancepin headset ke laptop itu perlu. Dan berawal dari nancepnya headset itulah, bermunculan orang-orang dengan bakat terpendam mereka. Bakat apa? Iya, bakat menyanyi.

Kadang ada yang cuma pantomim di mulut doank, kadang ada yang cuma bisik-bisik lirih dan terkadang ada yang sampai teriak-teriak. Dan percayalah, 75% dari orang yang suka nyanyi sambil teriak-teriak itu adalah golongan orang yang harus kalian hindari kalau kalian masih ingin telinga kalian berfungsi dengan normal.

Jujur, kemarin waktu lagu "sakitnya tuh disini" lagi booming, gue pernah sebelahan sama orang yang nyanyi lagu itu dengan badan yang agak menggeliat-menggeliat di atas tempat duduk kayak orang lagi nyawer di acara dangdutan.


3. DDA

Santai, DDA bukan saudaranya GGS. DDA kepanjangannya adalah Diem-Diem Annoying. Jadi, tipe yang kayak gini biasanya pendiem tapi dalam diamnya dia bisa memancarkan aura annoying yang banget.

Orang tipe kayak gini, kalau dia duduk di sebelah kita biasanya dia bakalan duduk agak mepet ke belakang nempel ke sandaran bangku, dengan mata yang terus ngawasin apa yang kita lakuin. Jadi, udah berasa kayak lagi ujian nasional.


FYI, cerita ini tertulis juga dengan kondisi gue lagi dilihatin sama mas-mas yang duduk di samping.

4. Berpantat lebar dan transparan

Kalau para maniak wifi punya sebutan "Tebal Pantat", maka ada satu lagi sebutan khusus buat para maniak wifi yang suka main monopoli bangku, yaitu "Pantat Lebar dan Transparan".


Jadi, orang tipe seperti ini biasanya satu meja bakalan dia pakai sendiri. Walaupun kenyataannya masih ada space kosong yang bisa ditempatin satu orang, tapi dia bakalan tetep bilang kalau mejanya penuh. Entah pakai alasan ada yang nempatin, buat naruh tas, mau dipakai diskusi sama temen atau mungkin alasan kalau dia punya pantat lebar yang bisa menuhin satu bangku tapi kita aja yang nggak bisa lihat, alias pantatnya transparan.

Buat kalian yang suka mesenin tempat duduk buat orang lain, dunia wifi itu keras, coy! Kalau mau dapet tempat ya usaha datang lebih awal, nggak ada yang namanya pesen tempat sama temen.

5. Deadliners

Nah, ini nih yang sukanya main keroyokan, yang sukanya datang gerombolan. Tipe-tipe yang suka ngumpul di satu meja besar untuk mendiskusikan satu hal yang sama. Tipe-tipe yang hidupnya ada di antara status selo dan nggak selo.

Dan di dalam satu kelompok besar tersebut pasti ada perbedaan kasta. Ada kasta yang tugasnya cari materi, ada yang bagian processor alias yang ngerjain, ada yang tukang beli gorengan dan ada pula yang tukang hura-hura.

Dan percayalah, ketika kelompok tersebut sedang gencar-gencarnya ngerjain tugas, pasti ada satu atau dua orang yang kerjaannya cuma buka Facebook dan nggak ngapa-ngapain. Dan ketika salah satu dari anggota kelompok ada yang tanya tentang permasalahan yang ada, orang ini pasti bakalan sok nyambung dengan mengucap "Kenapa? Ada masalah apa? Oh gitu? Hmm"

Dik, kalau udah gede jangan kebanyakan wifi-an ya. Biar nggak dikejar-kejar deadline.
6. Colokan fighter


Nggak cuma kenaikan BBM yang bisa bikin mahasiswa jadi garang, keterbatasan colokan pun juga bisa bikin mahasiswa jadi garang. Ketika baterai laptop kebetulan habis dan colokan yang tersedia tinggal satu, maka muncullah para colokan fighter.

Semoga ke depannya nggak bakalan ada kasus mahasiswa babak belur gara-gara rebutan colokan.

7. Colokan breeder

Ketika para kaum anarkis memilih untuk menjadi colokan fighter, maka di sisi lain para kaum sosialis lebih memilih untuk menjadi colokan breeder alias pengembang biak colokan. Dan gue adalah salah satunya.

Istilah colokan breeder diberikan bagi mereka yang mau berbagi colokan dengan memasang terminal ataupun roll kabel yang mereka bawa. Walaupun terkadang benih-benih colokan yang mereka buat malah terlihat ekstrim dan mengkhawatirkan karena bisa memicu gangguan listrik.


8. Sok kenal dan sok akrab

Pernah ngerasain nggak sih, ketika kalian lagi enak-enaknya wifi-an kemudian tiba-tiba ada orang datang nyamperin kalian, ngajak kenalan, ngajak ngobrol panjang-panjang bahkan curhat?

Tipe yang kayak gini biasanya adalah cewek. Dan gue pernah nemuin tiga di kampus. Tipe seperti ini biasanya cenderung orang yang tingkat percaya dirinya tinggi. Jadi, nggak peduli siapa yang ada di sebelah, dia pasti bakalan ngomong terus ngajak ngobrol seolah-olah kenal akrab.

"Mending langsung pasang headset aja kalau ketemu orang begituan," itu tadi pengakuan salah seorang teman yang pernah jadi korban curhat.


9. Layar tancep anime


Mahasiswa beginian biasa dijumpai di waktu sore atau malam, sewaktu speed download udah stabil. Karena tipe beginian butuh speed tinggi buat download anime. Begitu animenya udah kedownload semua, dia bakalan masuk ke tahap berikutnya, yaitu tahap nonton sampai jebot sambil ketawa-ketawa sendiri.

Dan ketahuilah, tipe kayak gini kalau nonton anime biasanya nggak pernah pakai headset. Jadi, suara-suara anime yang dia tonton bakalan kedengeran sama orang-orang di sekitar. "Yamete, yamete kudasai onii-chan!" ya kurang lebih begitulah sound effect yang sering gue denger dari mas-mas di sebelah.

10. Pacaran


11. Tukang sampah


Biasanya mereka datang dalam satuan koloni, bisa kelompok belajar, kelompok diskusi, kelompok tugas ataupun anak hima yang mau rapat. Lalu di tengah-tengah koloni tersebut muncullah soft-drink, cemilan, jus dan snack-snack lainnya.

Dan ketika apa yang mereka kerjakan di situ sudah selesai, mereka akan pergi dengan ninggalin sampah di atas meja. Nggak cuma sampah kering, tapi juga sampah basah. Waktu itu gue pernah nemuin meja yang abis dipakai sama anak hima, dan serius itu mejanya penuh sampah. Tisu, bungkus snack, botol dan bahkan ada gelas jus tumpah di atas meja. Njirrr!

Bukannya bergaya sok bersih, tapi dengan membuang sampah pada tempatnya paling tidak kita udah berusaha membantu kerja bapak-bapak cleaning service di kampus. Coba kalian perhatikan, mereka bekerja dari pagi sampai malam. Kalau malam pun mereka kadang harus menunggu kelas yang masih dipakai rapat supaya bisa dibersihkan sesudahnya.

Jangan sekali-kali bilang "Biarin! Toh, mereka juga digaji buat bersih-bersih," oh, you are a total jerk, man.


12. Downloader aka Juragan Film

Tipe yang diem-diem makan bandwidth banyak, karena suka download yang gede-gede. Sekali download bisa sampai 2GB bahkan lebih. Kalau urusan kualitas film, bisa dibagi lagi mejadi 2 tipe, sabar dan nggak sabaran. Yang sabar biasanya mau nunggu sampai ada kualitas bagus, minimal WEB-DL lah kalau kata temen gue yang udah ahli. Dan yang nggak sabaran, film kualitas CAM yang ada gambar orang seliweran sama suara bayi nangis di dalam bioskop pun bakalan dia download, yang penting bisa nonton katanya.

Downloader pro mainnya pakai torrent, yang noob masih pakai IDM.
Tipe maniak download seperti ini biasanya adalah tipe yang pantang angkat pantat sebelum downloadnya kelar.

13. Gamer


Ini nih yang jadi hobi gue kalau di kampus, ngegame bareng. Tipe yang bisa membuat mini game center di selasar kampus. Tipe yang sering jadi pusat perhatian karena berisik dan rame.

Berawal ketika dua orang bertemu dan salah satu dari mereka bilang "Ngegame yuk! Nge-LAN." kemudian berlanjut dengan jari yang menari di atas keyboard, jari tengah dan telunjuk yang meloncat-loncat di atas mouse kemudian mulut yang berkoar-koar tentang kemenangan dan kesalahan yang diperbuat oleh teman kita.

"Noob! Noob detected! Waa cupu!"

Dan reaksi orang-orang yang lewat pasti "Ini orang pada ngapain sih? Heboh banget."

14. Mahasiswa Tingkat Akhir


Ah udah, nggak perlu ngejelasin panjang-panjang kalau buat tipe yang ini. You know me so well lah...

Jadi, itu tadi sederet cerita yang bisa gue bagi mengenai uniknya para pengguna wifi yang ada di kampus. Dan mungkin salah satunya adalah kalian.

Tiga tahun lebih ngerasain wifi di kampus, ada banyak banget hal yang gue dapat. Terima kasih untuk semua pihak yang sudah memberi inspirasi, terima kasih juga untuk para mahasiswi adik angkatan yang sering seliweran dan bau parfumnya selalu membawa aura semangat tersendiri bagi kami para mahasiswa tua. "Duh neng, pakai parfumnya dikit aje. Saking nusuknya, abang jadi hafal bau parfum kamu."

Nggak bisa disangkal lagi kalau wifi adalah salah satu alasan kenapa gue ke kampus tiap hari. Jadi, kalau selama ini kalian mengira gue jomblo, kalian salah...




Tulisan kali ini sengaja gue tulis buat ngisi waktu kosong. Jujur beberapa minggu ke belakang sewaktu ke kampus, gue bingung mau ngapain. Mau masuk kelas buat kuliah tapi SKS gue udah penuh, mau bergaya sok ganteng tapi gue nggak ganteng, mau godain adik-adik angkatan tapi gue terlalu pemalu. Mau ngupil rasanya juga tengsin, takut kalau pas waktu ngupil tiba-tiba ada mbak-mbak yang nyamperin dan tanya "Mas, upil satu kilonya berapaan?"

Jadi secara garis besar kerjaan gue cuma duduk di bangku selasar kampus, main Dota2 sama mahasiswa selo lainnya dan wifi-an sampai malem, secara harfiah sampai diusir satpam.

Dan kalau ada alat buat ngukur ketebalan pantat, mungkin pantat gue ukurannya jadi lebih tipis dibanding beberapa minggu sebelumnya.

Dan nggak terhitung berapa sapaan "Hai, mas! Kok masih sering ngampus?" yang gue dapetin.

Oke, karena nganggur di kampus dan mau bikin rusuh di kampus pun pasti nggak dibolehin, akhirnya gue mengisi waktu luang dengan MENGAMATI sekitar dan kalau ada yang unik langsung gue tweet. Sekalian kasih sedikit bumbu biar seru.

Mengamati adik angkatan cewek yang seliweran nggak termasuk.

Jadi, kerjaan sampingan gue di kampus adalah jadi pengamat, atau bahasa kerennya observer. Yang ngerasa satu kampus sama gue, mungkin kalian harus mulai cemas. Karena siapa tau gue pernah mengamati momen ngupil kalian.

Setiap hasil observasi selalu gue kemas dalam bentuk tweet. Tapi, nge-tweet jaman sekarang tidaklah senyaman dulu lagi. Belakangan ini, di twitter sering banget ada yang namanya akun yang ngepromosiin akun lain.

Buat yang belum tahu, akun-akun kayak gitu cara kerjanya mungkin seperti ini: ketika kalian bikin tweet dan di dalam tweet kalian terdapat satu kata yang dijadiin keyword sama si akun promosi, kita ambil contoh "JOMBLO", maka secara otomatis kalian akan dapat mention dari akun tersebut, yang isinya kurang lebih seperti ini...

Yang ngerasa kenal sama akun di atas, tolong jitakin kepalanya sampai botak.
Apa tweet-tweet gue terlalu offensive sehingga menarik perhatian para pemerhati jomblo? Gue cuma berusaha kreatif dengan menghindari bikin tweet-tweet mainstream yang singkat seperti ini:
  • Laper.
  • Laper dan cuma bisa ngetweet.
  • Ngantuk.
  • Kangen dia. :(
  • Mati lampu.
  • Pagi gaess.
  • Malem gaess.
  • Cepet sembuh ya.
  • Sakitnya tuh disini.
  • Test.
  • Today stats: One follower, No unfollowers and followed 1 people via uapp.ly

Jadi, nggak cuma akun di atas saja yang pernah mention gue tentang akun selebtwit kampret. Ada juga yang begini...


Setelah gue buka akun yang bersangkutan, isinya nggak ada keren-kerennya sama sekali. Dan akhirnya gue bales kayak gini...


Dan bahkan ada yang akunnya hampir mirip sama comic terkenal.


What da fahk? Monyet bisa mainan twitter? Karena penasaran, akhirnya gue coba minta tolong sama itu monyet buat...


Ada juga yang lain, seperti...


Dan gue selalu punya cara buat bales mention dari mereka.




Sengaja nggak gue sensor nama-nama akunnya. Males, bukan akun penting juga.

Dari semua bukti mention yang sudah tertera di atas, 80% dari mereka terpicu oleh keyword "JOMBLO"

Kenapa? Kenapa harus jomblo? Ada apa dengan kata jomblo? Apa jomblo itu menyedihkan banget sampai selalu disaranin buat follow akun-akun kayak gituan?

Sewaktu pertama kali jomblo, kurang lebih 21 tahun yang lalu, gue ngerasa kayak dikasih dua pilihan. Antara ngenes atau bahagia. Dan tentu aja gue milih buat bahagia, walaupun sekarang ketambahan efek samping jadi agak gila.

Intinya nggak semua jomblo itu seneng galau. Malahan yang sering galau itu yang udah punya pacar. Kalau bahasa gaulnya anak Jogja itu "nggerus" atau "ngenes", apalagi yang LDR.

Well, apapun itu gue nggak ngerasain. Selama gue masih bisa tidur nyenyak di rumah dan ngerasain enaknya wifi-an di kampus, jomblo 3 tahun lagi pun gue rela. Serius.

Jadi, buat kalian yang sampai sekarang jodohnya masih belum sampai, mungkin masih nyangkut di tempat orang mungkin ada yang masih terlalu malu buat bertanya kemana arah jalan pulang yang benar, pesan gue cuma satu, jangan kebanyakan galau. Kalau kalian punya waktu lebih buat galau, berarti kalian juga punya waktu lebih buat ngelakuin sesuatu yang lain juga. Misalnya, ngejekin orang pacaran.

Mungkin kalian bisa coba nulis kayak gue. Nggak peduli tulisan kalian bagus atau enggak, yang penting kalian nggak galau. Lagian, nulis kayak gini lebih bermanfaat daripada seharian ngorekin lubang hidung sampai lubangnya muat dimasukkin uang receh lima ratusan.

Mulailah menggali ide, mulailah membuka laptop dan menulis ditemani segelas susu coklat yang hangat. Karena kopi masih terasa terlalu pahit untuk diminum di saat galau.