Temenan yuk.
Mereka yang membuat Ramadhan kalian lebih berkesan, selain pacar.

Jadi, ceritanya udah ketemu lagi sama Ramadhan. Seneng kan? Ya pasti seneng. Jadi, udah nge-list masjid yang menu takjilnya enak belum?

Baiklah, karena gue nggak mau kalah sama banner-banner partai, banner capres ataupun baliho iklan semen yang di sepanjang jalan ngucapin selamat menunaikan ibadah puasa, maka di kesempatan yang berbahagia ini gue juga mau ngucapin selamat menunaikan ibadah puasa.

Biar lebih kelihatan keren, ada baiknya gue juga bikin tulisan spesial untuk bulan yang spesial ini. Boleh kan?

Kali ini kita nggak bakalan ngomongin seputar cinta, seputar debat capres ataupun soal foto-foto di sosial media yang ada nomor di sampingnya. Kita bakal ngomongin seputar hal-hal apa yang sering kita temuin kalau Ramadhan tiba.

Nemuin jodoh nggak dihitung.

Sebelum tulisan ini dibuat, sempat ada yang ngomong ke gue, "Mas, kayaknya enak ya jadi mahasiswa tingkat akhir. Kalau ke kampus cuma wifi-an. Gampang banget, nggak ribet."

Yang perlu digarisbawahi dari pernyataan di atas adalah "Wifi-an itu gampang banget"

Yang ngomong kayak gitu mungkin kalau wifi-an kerjaannya cuma buka facebook di pojokan kampus yang sepi orang.

Baiklah, kali ini kita bakalan ngomongin hal-hal apa saja yang bisa bikin wifi-an itu jadi sama complicated-nya sama move on dari masa lalu kita.

Hal pertama yang harus kita ketahui adalah apa itu wifi-an. Wifi-an adalah istilah yang digunakan oleh anak jaman sekarang dalam menamai kegiatan pemakaian wifi secara besar-besaran. Entah itu buat ngepoin orang lain, buat download film atau buat yang enggak-enggak.


Pernahkah kalian memiliki sekumpulan sahabat yang selalu bisa tertawa dan selalu bisa menimbulkan kegilaan dalam situasi apapun? Sahabat yang tahu bagaimana caranya mengejek tanpa harus menyakiti orang yang diejek. Sahabat yang tahu bagaimana caranya tertawa di tengah himpitan deadline tugas kuliah yang semakin menggila.

Sahabat yang tahu bagaimana caranya berlari sambil tertawa ketika kecepatan internet sedang berada pada ambang 0kbps. Dan sahabat yang selalu ada mendampingi kita ketika satpam kampus sudah berkeliling sambil mengatakan "Sudah jam 9 malam, mas. Besok lagi."

Sebut saja mereka Pejuang 0kbps.

Sebelumnya, mungkin ada yang bingung. Kenapa disebut "Pejuang 0kbps"? Baiklah, mungkin kedengaran agak absurd, tapi ini kisah nyata. Kami merupakan sekumpulan mahasiswa yang suka stay hingga malam di kampus. Kadang belajar, kadang ngerjain tugas dan kadang cuma wifi-an. Tapi bisa dibilang 80% dari kegiatan malam kami di kampus hanyalah melakukan pembajakan wifi secara besar-besaran. Kami merupakan pesulap bandwidth yang bisa mengubah 0kbps menjadi 5Mbps yang sangat enak dipandang mata.

Waktu itu tahun kedua kami kuliah. Juga tahun kedua bagi kami para mahasiswa jomblo untuk memperjuangkan dan menentukan apakah di sisa KRS yang kami punya ke depan kami akan tetap menyandang status jomblo atau berpindah ke jenjang yang lebih baik yaitu status cumlaude.

Dan yang namanya tahun kedua kuliah pasti juga bertepatan dengan tahun ajaran baru dan otomatis ada event yang namanya ospek.

Iya, ospek. Event yang katanya bertujuan melatih jiwa kepemimpinan dan pengenalan kampus kepada mahasiswa baru. Tapi seumur-umur, kalau saya kenalan sama orang, saya nggak pernah kenalan sambil ngebentak orang yang diajak kenalan. Ah sudahlah...

Dan bagi saya sendiri yang kala itu menyandang status jomblo (walaupun sampai sekarang juga masih jomblo), mendengar kata ospek berarti mendengar hembusan angin semilir untuk kisah percintaan saya. Dan parahnya, karena berada di lungkungan mahasiswa tahun kedua yang mayoritas jomblo, teman-teman saya pun ternyata mempunyai pemikiran yang sama. 'Ah, lumayan nih. Bisa buat nyari cewek.' itulah yang ada di pikiran mereka.

Dan singkat cerita, saya dan empat orang lainnya mendaftarkan diri sebagai panitia ospek. Tiga orang di ospek jurusan dan dua orang di ospek fakultas.

Tanggal 22 April 2014. Itu Hari Bumi. Sehari sebelumnya, itu Hari Kartini. Hari dimana banyak emak-emak ribut di pagi buta nganterin putra-putrinya buat didandanin di salon. Juga hari dimana pak polisi nggak bakal nilang orang sanggulan yang nggak pakai helm. Dan siangnya kita bisa melihat bedak dan maskara yang udah luntur belepotan bercampur keringat.

Dan entah kebetulan atau enggak, ada satu anak manusia yang numpang eksis setahun sekali di waktu Hari Bumi gara-gara dia lahir barengan sama hari bumi.

22 April 2014 kemarin, alhamdulillah saya masih diberi kesempatan untuk bertemu dengan raga ini di umur 21 tahun. Umur yang bisa dibilang tua, umur yang nggak bisa habis dibagi 2, umur yang kalau dibagi 3 hasilnya 7.