Temenan yuk.
Showing posts with label Random. Show all posts
Showing posts with label Random. Show all posts

Hujan gerimis di malam Minggu.

Mereka bilang, hujan di malam Minggu akan mematahkan semangat kaum berpacar untuk keluar jalan-jalan. Dan berhubung aku adalah salah satu penganut faham LDR, maka statement itu tidak berlaku padaku.

Dengan bermodalkan jaket tebal dan jiwa fakir wifi, malam itu aku berangkat menuju ke sebuah hotspot area di sekitar kawasan candi.

Sesampainya di sana, langsung terpampang pemandangan yang tidak mengenakkan, dari parkiran bisa terlihat satu dua pasang orang pacaran.

Yang beranggapan kaum berpacar nggak bakal keluar pas hujan, kalian salah. Mereka ngumpul di hotspot area.

"Voucher satu, pak", ucapku ke pak satpam yang sedang duduk menahan kantuk dengan secangkir kopi di tangan.

Aku beranjak masuk ke area nongkrong, tepat satu meja di depan orang pacaran tadi.

Kubuka laptopku, dan mulai kujelajahi Youtube, Steam dan situs-situs penyedia film bajakan yang sudah tidak menjadi rahasia umum lagi.

Semua berjalan lancar, beberapa film sudah kudapatkan, mulai dari kualitas HD-rip hingga Blueray.

Sampai akhirnya kenikmatan yang terbilang hakiki itu terganggu oleh dua sejoli yang sedang duduk di depanku mulai meributkan sesuatu, yaitu "mouse-nya rusak"

Well, technically itu touchpad, bukan mouse.

Karena berisik banget dan si cowok juga kayaknya cuma bisa dlongap-dlongop ga tau apa-apa, akhirnya kuhampiri mereka yang duduk tepat di depanku.

"Kenapa mas?" tanyaku pada si pejantan.

"Ini mas, mouse-nya kok ga bisa gerak ya? Padahal tadi bisa, normal"

Kulihat dengan seksama, kupencet-pencet bagian left-click, hasilnya nihil. Sampai akhirnya aku tersadar mungkin function button yang biasa digunakan untuk mendisable touchpad tidak sengaja mereka tekan.

Tapi ternyata otak jahilku tidak mau semudah itu membantu mereka.

Kubuka command prompt di laptop mereka. Kucoba semua perintah command prompt yang dengan susah payah kuingat dari mata kuliah praktikum Utility semasa kuliah dulu.

Mereka berdua terdiam, seakan-akan sedang melihat seorang hacker yang sedang menatap layar hitam layaknya film Matrix yang mereka tonton di TV.

Sekitar 3 menit kuotak-atik laptop mereka denga command prompt abal-abal, sampai akhirnya kutekan tombol FN+F10 untuk mengembalikan touchpad mereka.

Dan voila! Normal seperti sediakala.

Mereka berdua mengucapkan terima kasih, dan akupun berlalu meninggalkan mereka berdua.
Meninggalkan sosok si pejantan yang masih terpana kebingungan seolah-olah bertanya "Anjir, Lu apain tadi kok bisa normal lagi mouse-nya?"

"Mas, turun portable biologi", ucap gue ke mas pramugara Trans Jogja yang gue naiki.

Di bawah gerimis kota Jogja, petang itu gue melangkah dari belakang fakultas biologi menuju kos Jisung. Sesampainya di kos, gue disambut oleh orang-orang yang ada di dalamnya dengan  "Halo! Bocah pengundang hujan sudah datang. Ayo, Do! Serverin main dota."

Semacam sudah menjadi pertanda ketika gue datang atau pergi dari kos Jisung pasti sambil ngundang hujan. Dan semacam sudah menjadi agenda juga bagi kami ketika Jumat malam tiba kami nginep di kos Jisung, kemudian Sabtu pagi kami jogging di GSP.

Seperti biasa kami berempat; Jisung, Ucil, Said dan gue mencoba membuat diri kami senyaman mungkin di kamar kos yang selalu terasa seperti sauna ketika kipas anginnya dimatiin itu.

Malam semakin larut dan jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Ucil dan Said masih berkutat dengan gamepad dan skor mereka yang masih 0-0, sementara Jisung udah rebahan di atas kasur setelah jagoannya, MU harus kalah dari jagoan gue, PSG.

Gue yang lagi liyer-liyer di atas kasur sambil nutupin mata pakai tangan tiba-tiba ditabok Jisung.

"Do, cantik ga? Manteb nih", ternyata Jisung lagi mainan aplikasi Tinder.

Gue perhatiin fotonya, "Iya nih, mantab. Coba geser liat fotonya dia yang lain"

Setelah ditap ke samping, tampaklah lembah kematian yang ada di salah satu novel Sherlock Holmes.

"Edyaaaan, belahannya kemana-mana", komentar gue setelah ngeliat foto cewek yang tadi versi tanktop sama hotpant.

"Huehehehe", Jisung langsung ketawa ngekek.

Sementar Ucil yang lagi main PES cuma bisa tanya, "Hoi, pada liat apaan he?"

Karena penasaran, gue akhirnya ikut-ikutan mantengin hapenya Jisung.

Dan beberapa menit ke depan gue jadi semacam penasihat buat Jisung. Waktu gue bilang "Yes", Jisung bakal nge-like, kalau gue bilang "Nope" dia bakal tap ganti cari yang lain.

Ada kalanya gue bilang "Nope" tapi Jisung bilang "Yes", di sini Jisung bakal buka profil cewek tersebut kemudian liat-liat fotonya satu persatu sampai akhirnya dia bilang...

"Ah iya, Do. Ternyata nope"

Malam itu gue nemuin banyak tipe cewek. Mulai dari yang mukanya putih tapi mengkilat kayak abis diolesin minyak, terus ada cewek yang doyan foto close up sambil mamerin kornea matanya yang gede kayak boneka barbie, kemudian ada yang doyan foto sambil nyetir di mobil dan yang terakhir foto sambil pegang barang-barang endorse.

Karena bosan liat cewek-cewek cakep tapi udah ada supirnya, akhirnya gue tinggalin Jisung yang masih mainan Tinder, gue gantian ngeliatin Said sama Ucil yang ternyata rematch setelah City kalah dari Bayern Munich.

Selang beberapa menit, Jisung manggil gue lagi, "Do, kali ini bener-bener mantab. Pas nih"

Gue perhatiin fotonya, cewek berhijab, mukanya kalem, gayanya juga oke macam mbak-mbak mapan yang udah siap dilamar.

"Ada id LINE sama instagramnya juga nih", ucap Jisung.

Dan emang bener, ada id LINE di biodatanya si doi.

Tapi, waktu gue perhatiin di bawahnya si doi nyantumin tulisan "Just for business. Bukan buat kenalan."

Diulang sampai tiga kali.

"Sung, baca tuh. Cuma buat yang mau bisnis", ucap gue ke Jisung.

"Lah, iya ternyata. Terus gimana nih, Do?", tanya Jisung ke gue.

"Ga liat itu? Ampe diulang 3x begitu, paling kalau kamu ngechat dikirain mau endorse barang", balas gue.

Emang miris, dulu kalau nemu instagram atau twitter cewek cantik, skenario terburuknya adalah si doi nulis akun cowoknya terus ditambahin lambang love di bionya.

Tapi semua berubah semenjak harga parfum dan paketan internet naik, juga semenjak endorse jadi tren di kalangan pengguna instagram.

Sering kita lihat wanita-wanita cantik naruh id LINE, path atau bahkan whatsapp di bio instagram mereka. Tapi setelah itu ada embel-embel "Endorse only, bla bla bla"



Please, jangan mencoba nyari id LINE atau instagram di atas. You boys deserve more than that.

...

Sebulan berlalu setelah peristiwa cewek endorse, entah waktu itu hari apa, gue mampir ke kos Jisung. Gue yang lagi makan ayam penyet di depan TV tiba-tiba ditanyain, "Unsoed daerah mana, Do?"

Gue jawab aja, "Purwokerto, emang kenapa?"

"Dapet kenalan dari Tinder nih, anak Unsoed", balas Jisung.

"Udah kenalan? Mana? Coba liat", tanya gue ke Jisung.

Kemudian Jisung nunjukin chat dia sama si doi. Awal yang bagus untuk memulai sebuah PDKT.

       Jisung: "Halo"
       Cewek: "Haii"

Kemudian gue dikasih liat profilnya doi. Berhubung Tindernya disambungin ke instagram, jadi gue bisa liat foto-fotonya si doi yang ada di instagram.

Si doi manis, berhijab, jago nyanyi kalau gue liat dari fotonya doi yang banyak foto sambil pegang gitar.

Kalau gue pembawa acara Mancing Mania, mungkin gue bakalan nyebut ini "strike".

Gue tipikal cowok yang bakalan ikut seneng kalau ada temen yang seneng. Sama halnya ketika gue tau kalau Jisung udah naikin level PDKT-nya ke level "chatting via LINE"

Ngeliat temen gue yang dulu pernah patah hati, sekarang udah lumayan terhibur setelah nemu seseorang yang baru.

Walaupun beberapa minggu kemudian Jisung cerita kalau si doi udah ga bales chat dia. Dan Ucil juga udah mulai nakut-nakutin dengan ocehan "Udah punya pacar, bro" atau "Besok dibales kok, tapi balesnya sambil bilang 'maaf kak, kemarin hapenya lagi dipinjem pacar' Huahahaha"

"Pastiin aja dulu. Ga usah takut buat tanya single atau taken", ucap gue ke Jisung.

Mari doakan Jisung semoga dia bisa keluar dari brother-zone.

Ah iya, id LINE gue bukan @arifdopratama, gue bukan orang yang simple minded yang bisa dengan mudah bikin id LINE yang sama dengan sosial media yang lain. *melipir*

"Do, lihat tuh! Bening banget, bro!"

Kira-kira begitulah susunan kosakata dan kalimat yang sering dilontarkan oleh teman-teman ketika melihat cewek cakep lewat di selasar kampus, tentu saja sambil nunjuk-nunjuk kayak tukang parkir.

Gue punya dua pilihan di sini: 1) lari nyamperin cewek cakep tersebut terus bilang ke dia, "kamu cantik, mau nggak aku promosiin ke instagram bidadariUGM?", atau 2) diam dan bersikap santai. Gue memilih pilihan kedua, karena gue cupu dan gue nggak begitu ngerti gimana cara gunain instagram.

"Iya, nih bro akun facebook-nya. Cantik sih, tapi alay sama suka nyepam notification game di facebook," kata gue dengan santai sambil nunjukin akun facebook cewek yang dimaksud bak salesman yang lagi buka buku katalog barang.

Bisa dibilang ini kegiatan normal yang para jomblo lapuk sering lakukan ketika nongkrong di kampus.

Tertarik sama lawan jenis yang style-nya perfect abis emang bisa dibilang sesuatu yang normal. Tapi sebagai kaum cupu, kami cuma bisa tertarik doank tanpa bisa ngomong ke orangnya. Buat sekedar bilang "Hai!" aja mungkin gue bisa ngomong sambil gemeteran.

Gue. Sewaktu nyapa cewek.
Dan kalau secara nggak sengaja gue disapa sama cewek yang "menarik di hati"...

Ekspresi muka gue sehabis disapa sama adik angkatan yang cakep.
Karena nggak pernah berani ngomong langsung ke orangnya, jadi paling ujung-ujungnya cuma bisa dateng ke kost temen. Duduk, nyalain laptop, buka Facebook terus curhat sambil nunjukin profil cewek-cewek cakep yang ditaksir.

       "Ini nih cantik! Tapi kalau pakai jilbab, rambutnya kemana-mana."
       "Ini juga cantik, kalau pakai parfum baunya kayak kembang kantil deket perpus pusat."
       "Ini juga cantik nih, top dah! Masuk list UGM Cantik."

Iya, cuma bisa nunjuk-nunjuk foto di Facebook doank. Warbiasa! Super sekali.

Tapi kalau ngomongin soal seseorang yang berhasil menarik hati, gue nggak bakalan bisa lupa sama cewek yang berhasil membuat gue tertarik untuk pertama kalinya di bangku kuliah. Cantiknya dia, manisnya senyum dia sama sakit yang dia kasih, karena gue yang terlalu cupu buat bisa kenal lebih jauh sama dia sebelum akhirnya dia jadi milik orang lain.

Sebut saja dia si Neng, atau si Neng geulis karena dia orang Sunda.

Gue nggak perlu sebut nama. Buat kalian yang langsung paham, you know me so well lah pokoknya.

Ngomongin soal si Neng berarti kita harus terbang lagi ke masa lalu, masa di mana gue masih terlalu cupu buat jalan sendirian di kampus, masa di mana gue lebih memilih buat nahan kencing biar bisa kencing di rumah daripada harus jalan sendiri menuju kamar mandi kampus.

Makanya, di mana-mana yang namanya mengingat masa lalu itu yang ada cuma ingat sakitnya doank.

...

Gue termasuk salah satu orang yang nggak percaya sama istilah "Cinta pada pandangan pertama", karena semua yang instan itu nggak baik, gampang lembek kayak mie instan yang kelamaan direbus. Dan juga karena gue nggak begitu ingat kapan dan di mana pertama kali gue ketemu si Neng.

Yang gue ingat, kami selalu dipertemukan dalam keadaan yang tidak terduga. Mulai dari tikungan lampu merah K*C depan MIPA selatan, depan pos satpam, di sela-sela pagi gue yang terburu-buru karena terlambat masuk kelas dan bahkan di kerumunan mahasiswa yang penuh berdesakkan karena mau tukeran kelas.

Mungkin beberapa dari kalian bakal ngira kalau itu semua kelihatan so sweet karena kami selalu dipertemukan dalam momen yang tak terduga, tapi kalian salah.


Kami selalu ketemu dalam keadaan yang tidak terduga dan tidak tepat. Karena kami selalu dipertemukan ketika gue sedang dalam keadaan kucel, jelek dan acak-acakan sedangkan dia selalu kelihatan cantik dan manis.

Sebenarnya ini semua nggak ada hubungannya sama situasi, karena emang dari sananya gue udah kucel bawaannya.

...

Masa-masa semester satu, masa di mana gue masih bisa memandang setiap tatapan manis yang dikasih sama si Neng. Tatapan yang sampai sekarang belum bisa gue pecahin misterinya. Misteri Tatapan Si Neng, kurang lebih begitulah judulnya kalau ada yang kurang kerjaan mau mengangkat tulisan ini jadi sebuah sinetron.

Serius, buat seorang cowok item kayak gue, bisa punya pacar ataupun gebetan yang cantik, manis, berjilbab dan berkulit putih itu kayak makan martabak manis coklat keju terus sekarat karena keenakan, begitu bangun di rumah sakit dibawain martabak manis lagi, sekarat lagi dan begitu seterusnya.

Tapi semua berubah semenjak salah satu dari teman gue bilang ,"Do, dia ternyata udah jadian. Sama mas yg itu."

"Oh, yaudah," begitulah kira-kira reaksi gue waktu itu.

Sebetulnya gue pengen lari ke depan kampus dan nyundul gerobak gorengan yang ada di samping kopma sambil teriak "KENAPA!!??", kemudian teriak di muka abang penjualnya "Kenapa, bang? Kenapa abang naruh cabe di tengah risolnya? KENAPA?". Tapi akhirnya gue memilih buat bersikap cool karena warung gorengan samping kopma waktu itu belum buka.

Ada yang berubah semenjak waktu itu. Dulu sewaktu dia masih single, tiap kali lihat dia senyum rasanya kayak makan martabak manis spesial rasa coklat keju. Tapi sekarang, rasanya kayak makan martabak manis coklat keju yang mesesnya pakai meses abal-abal dan banyakan kejunya daripada coklatnya. Abis itu waktu makan masih dibisikin sama abang yang jualan "Tong, inget. Yang elu liat itu pacar orang. Inget, dia udah jadi pacar orang. Nggak enak 'kan rasanya?"

Iya sih, tetap martabak manis. Tapi bagaimanapun juga, rasanya tetap saja beda.

...

Waktu mungkin obat yang paling baik untuk semua luka.

Gue selalu bilang ke teman-teman gue, "Yang namanya perasaan harus diungkapin. Seperti ketika kalian gak sengaja kesetrum terus kalian ngucap 'Anjrit', 'Bajirut' dan lain sebagainya."

Akan tetapi, untuk cerita si Neng kali ini, mungkin gue akan bikin satu pengecualian. Karena ada kalanya sebuah rasa itu tidak harus diungkapkan. Seperti ketika kalian nggak sengaja menginjak tahi ayam. Yang kalian lakukan cuma belagak diam sambil ngusap-usapin kaki ke tanah tanpa harus teriak-teriak "Woi gue nginjek tai ayam woi! Sini bro, groufie dulu sama tai ayam!"

Mungkin, gue cuma perlu menemukan kebahagiaan-kebahagiaan kecil di antara semua barisan cerita ini.

...

Mungkin besok-besok gue juga bakalan cerita (red: curhat) tentang perjalanan cinta gue yang lainnya, biar kalian bisa tahu seberapa fakirkah gue dalam hal percintaan. Yang berakhir penasaran, berakhir dengan keihklasan atau yang sampai sekarang belum jelas gimana akhirnya? Any ideas?

Wi-Fi. Wi-Fi everywhere.

Sekarang udah nggak jaman yang namanya nongkrong buat nyari gebetan. Sekarang, nongkrong di cafe yang dicari cuma wifi, nongkrong di toko buku juga nyari wifi. Gue suka sama orang yang tiap kali nongkrong pasti nyari wifi, karena mereka adalah orang yang masih percaya kalau jodoh ada di tangan Tuhan.

Termasuk gue sendiri.

Kalau boleh jujur, jaman sekarang siapa sih yang nggak kenal wifi? Mulai dari anak SD yang anunya masih sering kejepit resleting sampai mas-mas mahasiswa tingkat akhir yang sampai sekarang masih jomblo, pasti tahu yang namanya wifi.

Pantesan sampai sekarang gue masih jomblo, karena gue masih suka mainan wifi bukannya mainan cewek. Ah, tapi cowok sejati itu nggak pernah mainin... ah, itu kan cuma kutipan yang suka dishare orang galau di Facebook.

Jadi, pada kesempatan yang penuh rahmat dan hidayah ini kita bakalan sedikit ngobrolin tentang mereka yang suka atau mereka para maniak wifi di kampus-kampus. Semoga para pelaku netcut pantatnya nggak kedutan gara-gara gue lagi ngomongin mereka di sini.

Kalau ada sebutan "tebal muka" buat orang yang nggak tahu malu, mungkin sebutan yang pantas untuk para maniak wifi di kampus yang nggak tahu waktu adalah "tebal pantat".

Pokoknya salut deh buat mereka. Di saat yang lain pada sibuk mempermasalahkan penampilan buat nyari gebetan, mereka tetap sibuk mempermasalahkan IP address guna mendapatkan sambungan Wi-Fi yang memadahi.

Oke, dan inilah mereka. Siapa tahu kalian juga salah satu dari mereka...

1. Pendiem atau penyendiri


Tipe kayak gini biasa ditemuin lagi duduk sendirian di selasar kampus, menatap layar laptop yang brightness-nya terlalu over dengan tatapan yang kosong. Tipe yang lebih memilih bertapa di pojokan kampus ketimbang duduk bareng temen lainnya. Mereka adalah mahasiswa yang datang tanpa suara, pergi juga tanpa suara. Dan mereka pasti pulang dengan meninggalkan tanya di benak teman-teman mereka...
Itu anak tadi kemana?
2. Vokalis wannabe


Wifi-an rasanya nggak enak kalau cuma duduk diem mantengin laptop. Maka dari itu, nancepin headset ke laptop itu perlu. Dan berawal dari nancepnya headset itulah, bermunculan orang-orang dengan bakat terpendam mereka. Bakat apa? Iya, bakat menyanyi.

Kadang ada yang cuma pantomim di mulut doank, kadang ada yang cuma bisik-bisik lirih dan terkadang ada yang sampai teriak-teriak. Dan percayalah, 75% dari orang yang suka nyanyi sambil teriak-teriak itu adalah golongan orang yang harus kalian hindari kalau kalian masih ingin telinga kalian berfungsi dengan normal.

Jujur, kemarin waktu lagu "sakitnya tuh disini" lagi booming, gue pernah sebelahan sama orang yang nyanyi lagu itu dengan badan yang agak menggeliat-menggeliat di atas tempat duduk kayak orang lagi nyawer di acara dangdutan.


3. DDA

Santai, DDA bukan saudaranya GGS. DDA kepanjangannya adalah Diem-Diem Annoying. Jadi, tipe yang kayak gini biasanya pendiem tapi dalam diamnya dia bisa memancarkan aura annoying yang banget.

Orang tipe kayak gini, kalau dia duduk di sebelah kita biasanya dia bakalan duduk agak mepet ke belakang nempel ke sandaran bangku, dengan mata yang terus ngawasin apa yang kita lakuin. Jadi, udah berasa kayak lagi ujian nasional.


FYI, cerita ini tertulis juga dengan kondisi gue lagi dilihatin sama mas-mas yang duduk di samping.

4. Berpantat lebar dan transparan

Kalau para maniak wifi punya sebutan "Tebal Pantat", maka ada satu lagi sebutan khusus buat para maniak wifi yang suka main monopoli bangku, yaitu "Pantat Lebar dan Transparan".


Jadi, orang tipe seperti ini biasanya satu meja bakalan dia pakai sendiri. Walaupun kenyataannya masih ada space kosong yang bisa ditempatin satu orang, tapi dia bakalan tetep bilang kalau mejanya penuh. Entah pakai alasan ada yang nempatin, buat naruh tas, mau dipakai diskusi sama temen atau mungkin alasan kalau dia punya pantat lebar yang bisa menuhin satu bangku tapi kita aja yang nggak bisa lihat, alias pantatnya transparan.

Buat kalian yang suka mesenin tempat duduk buat orang lain, dunia wifi itu keras, coy! Kalau mau dapet tempat ya usaha datang lebih awal, nggak ada yang namanya pesen tempat sama temen.

5. Deadliners

Nah, ini nih yang sukanya main keroyokan, yang sukanya datang gerombolan. Tipe-tipe yang suka ngumpul di satu meja besar untuk mendiskusikan satu hal yang sama. Tipe-tipe yang hidupnya ada di antara status selo dan nggak selo.

Dan di dalam satu kelompok besar tersebut pasti ada perbedaan kasta. Ada kasta yang tugasnya cari materi, ada yang bagian processor alias yang ngerjain, ada yang tukang beli gorengan dan ada pula yang tukang hura-hura.

Dan percayalah, ketika kelompok tersebut sedang gencar-gencarnya ngerjain tugas, pasti ada satu atau dua orang yang kerjaannya cuma buka Facebook dan nggak ngapa-ngapain. Dan ketika salah satu dari anggota kelompok ada yang tanya tentang permasalahan yang ada, orang ini pasti bakalan sok nyambung dengan mengucap "Kenapa? Ada masalah apa? Oh gitu? Hmm"

Dik, kalau udah gede jangan kebanyakan wifi-an ya. Biar nggak dikejar-kejar deadline.
6. Colokan fighter


Nggak cuma kenaikan BBM yang bisa bikin mahasiswa jadi garang, keterbatasan colokan pun juga bisa bikin mahasiswa jadi garang. Ketika baterai laptop kebetulan habis dan colokan yang tersedia tinggal satu, maka muncullah para colokan fighter.

Semoga ke depannya nggak bakalan ada kasus mahasiswa babak belur gara-gara rebutan colokan.

7. Colokan breeder

Ketika para kaum anarkis memilih untuk menjadi colokan fighter, maka di sisi lain para kaum sosialis lebih memilih untuk menjadi colokan breeder alias pengembang biak colokan. Dan gue adalah salah satunya.

Istilah colokan breeder diberikan bagi mereka yang mau berbagi colokan dengan memasang terminal ataupun roll kabel yang mereka bawa. Walaupun terkadang benih-benih colokan yang mereka buat malah terlihat ekstrim dan mengkhawatirkan karena bisa memicu gangguan listrik.


8. Sok kenal dan sok akrab

Pernah ngerasain nggak sih, ketika kalian lagi enak-enaknya wifi-an kemudian tiba-tiba ada orang datang nyamperin kalian, ngajak kenalan, ngajak ngobrol panjang-panjang bahkan curhat?

Tipe yang kayak gini biasanya adalah cewek. Dan gue pernah nemuin tiga di kampus. Tipe seperti ini biasanya cenderung orang yang tingkat percaya dirinya tinggi. Jadi, nggak peduli siapa yang ada di sebelah, dia pasti bakalan ngomong terus ngajak ngobrol seolah-olah kenal akrab.

"Mending langsung pasang headset aja kalau ketemu orang begituan," itu tadi pengakuan salah seorang teman yang pernah jadi korban curhat.


9. Layar tancep anime


Mahasiswa beginian biasa dijumpai di waktu sore atau malam, sewaktu speed download udah stabil. Karena tipe beginian butuh speed tinggi buat download anime. Begitu animenya udah kedownload semua, dia bakalan masuk ke tahap berikutnya, yaitu tahap nonton sampai jebot sambil ketawa-ketawa sendiri.

Dan ketahuilah, tipe kayak gini kalau nonton anime biasanya nggak pernah pakai headset. Jadi, suara-suara anime yang dia tonton bakalan kedengeran sama orang-orang di sekitar. "Yamete, yamete kudasai onii-chan!" ya kurang lebih begitulah sound effect yang sering gue denger dari mas-mas di sebelah.

10. Pacaran


11. Tukang sampah


Biasanya mereka datang dalam satuan koloni, bisa kelompok belajar, kelompok diskusi, kelompok tugas ataupun anak hima yang mau rapat. Lalu di tengah-tengah koloni tersebut muncullah soft-drink, cemilan, jus dan snack-snack lainnya.

Dan ketika apa yang mereka kerjakan di situ sudah selesai, mereka akan pergi dengan ninggalin sampah di atas meja. Nggak cuma sampah kering, tapi juga sampah basah. Waktu itu gue pernah nemuin meja yang abis dipakai sama anak hima, dan serius itu mejanya penuh sampah. Tisu, bungkus snack, botol dan bahkan ada gelas jus tumpah di atas meja. Njirrr!

Bukannya bergaya sok bersih, tapi dengan membuang sampah pada tempatnya paling tidak kita udah berusaha membantu kerja bapak-bapak cleaning service di kampus. Coba kalian perhatikan, mereka bekerja dari pagi sampai malam. Kalau malam pun mereka kadang harus menunggu kelas yang masih dipakai rapat supaya bisa dibersihkan sesudahnya.

Jangan sekali-kali bilang "Biarin! Toh, mereka juga digaji buat bersih-bersih," oh, you are a total jerk, man.


12. Downloader aka Juragan Film

Tipe yang diem-diem makan bandwidth banyak, karena suka download yang gede-gede. Sekali download bisa sampai 2GB bahkan lebih. Kalau urusan kualitas film, bisa dibagi lagi mejadi 2 tipe, sabar dan nggak sabaran. Yang sabar biasanya mau nunggu sampai ada kualitas bagus, minimal WEB-DL lah kalau kata temen gue yang udah ahli. Dan yang nggak sabaran, film kualitas CAM yang ada gambar orang seliweran sama suara bayi nangis di dalam bioskop pun bakalan dia download, yang penting bisa nonton katanya.

Downloader pro mainnya pakai torrent, yang noob masih pakai IDM.
Tipe maniak download seperti ini biasanya adalah tipe yang pantang angkat pantat sebelum downloadnya kelar.

13. Gamer


Ini nih yang jadi hobi gue kalau di kampus, ngegame bareng. Tipe yang bisa membuat mini game center di selasar kampus. Tipe yang sering jadi pusat perhatian karena berisik dan rame.

Berawal ketika dua orang bertemu dan salah satu dari mereka bilang "Ngegame yuk! Nge-LAN." kemudian berlanjut dengan jari yang menari di atas keyboard, jari tengah dan telunjuk yang meloncat-loncat di atas mouse kemudian mulut yang berkoar-koar tentang kemenangan dan kesalahan yang diperbuat oleh teman kita.

"Noob! Noob detected! Waa cupu!"

Dan reaksi orang-orang yang lewat pasti "Ini orang pada ngapain sih? Heboh banget."

14. Mahasiswa Tingkat Akhir


Ah udah, nggak perlu ngejelasin panjang-panjang kalau buat tipe yang ini. You know me so well lah...

Jadi, itu tadi sederet cerita yang bisa gue bagi mengenai uniknya para pengguna wifi yang ada di kampus. Dan mungkin salah satunya adalah kalian.

Tiga tahun lebih ngerasain wifi di kampus, ada banyak banget hal yang gue dapat. Terima kasih untuk semua pihak yang sudah memberi inspirasi, terima kasih juga untuk para mahasiswi adik angkatan yang sering seliweran dan bau parfumnya selalu membawa aura semangat tersendiri bagi kami para mahasiswa tua. "Duh neng, pakai parfumnya dikit aje. Saking nusuknya, abang jadi hafal bau parfum kamu."

Nggak bisa disangkal lagi kalau wifi adalah salah satu alasan kenapa gue ke kampus tiap hari. Jadi, kalau selama ini kalian mengira gue jomblo, kalian salah...




Lebaran. Ada banyak hal yang bisa dihubungin sama lebaran. Mulai dari berakhirnya sekuel iklan sirup, arus mudik/balik, baju baru hingga sekumpulan orang yang was-was ketika nanti lebaran ditanya "Udah punya pacar belum?" sama sanak keluarganya.

Tapi percayalah ada satu hal yang selalu dinanti sewaktu lebaran, yaitu duit pesangon (pesangon: biasanya identik dengan uang terakhir yang diberikan sewaktu masa kerja kita habis) lebaran. Entah di tempat kalian disebut apa, tapi di sini gue bakalan nyebut pesangon. Karena siapa tahu itu adalah duit terakhir yang kita terima di waktu lebaran untuk menandai berakhirnya masa jabatan kita sebagai anak kecil. Dan mungkin lebaran berikutnya kita cuma bakalan dapat ucapan 'Yang gede udah nggak dapet ya?' atau malah dapat pertanyaan 'Udah kuliah ya? Kapan lulus? Udah punya pacar?'