Temenan yuk.
Showing posts with label Edisi Reviews. Show all posts
Showing posts with label Edisi Reviews. Show all posts
Buat anak kuliah yang nggak ngekost kayak gue, berangkat pagi plus balapan di jalan tiap pagi mungkin jadi rutinitas yang nggak bisa ditinggalin. Tiap hari pulang dan berangkat lewat jalan itu lagi, kejebak macet di jalan itu lagi, ketemu orang-orang yang suka nyebrang ngawur lagi, nglewatin lampu merah itu lagi dan ketemu bencong-bencong itu lagi. Oh GOD... -___-

Tapi nggak cuma itu, berangkat ke kampus itu ternyata juga ada sesuatu yang bisa bikin gue ngerasa ‘excited’. Orang hebat itu ternyata nggak harus orang yang tiap hari bisa nongol di TV. Di perjalanan ke kampus gue tiap hari, gue nemuin beberapa orang hebat yang at least bisa bikin hati gue ngerasa kagum sama mereka. Mungkin beberapa dari kalian juga pernah liat mereka di sepanjang jalan dari Klaten ke UGM.


Hi there! Kali ini aku mau sedikit cerita tentang pengalaman beberapa hari kemarin. Tentang cinta, pasti pada suka kan? :D Yang lagi pada galau boleh lah mampir sebentar baca postingan kali ini. Gini ceritanya.

Beberapa hari kemarin waktu naik bus Transjogja aku belajar sesuatu dari kakek nenek yang duduk di samping aku. Si nenek dengan postur badan besar seperti nenek2 kejawen lainnya, juga pakai selendang di bahu. Si kakek pake baju kebaya juga celana kain, peci si kakek yang udah keliatan agak kusam nunjukkin betapa sederhananya mereka. Waktu pertama masuk bus aku nggak begitu merhatiin mereka. Tapi lama2 waktu aku perhatiin ada satu hal yang bikin aku ngerasa iba, si kakek ternyata tunanetra.

Buat ngangetin suasana aku sempet tanya “Mbah, mau kemana sama mbah kakung?” Si nenek njawab, “Ini mas, mau ke malioboro.” Aku agak bingung, trus si nenek ngelanjutin jawabannya “Mau ngajakin mbah kakung jalan2 ke malioboro.” Aku langsung senyum, aku langsung sadar tentang sesuatu.

CINTA, cuma sedikit orang yang bisa ngerti apa itu cinta. Cinta itu nggak cuma tentang perasaan, tapi juga tentang apa yang kita lakukan untuk orang yang kita cintai. Cinta yang membuat si nenek mau nemenin si kakek buat jalan2 ke malioboro, nggak peduli walaupun si kakek punya kekurangan.

Cuma orang yang mau ngeliat kenyataan yang bisa ngerti apa itu cinta, bukan orang yang bisanya cuma mencintai karena fisik yang tampan atau harta yang melimpah.

Nggak ada manusia yang sempurna, maka dari itu Allah Swt menciptakan apa yang disebut CINTA. Biar kita bisa mengerti, memahami & menerima dengan ikhlas ketidaksempurnaan dari orang yang kita cintai atau orang yang mencintai kita.

Itu tadi sedikit cerita, semoga bisa jadi inspirasi buat kalian semua. :)

Apa yang terlintas di pikiran kalian jika kalian mendengar kata “Yang Terbaik”? Apa yang akan kalian lakukan untuk mendapatkan title tersebut? Sering kali terlintas di pikiran kita bahwa menjadi yang terbaik itu adalah berhasil mengungguli pesaing-pesaing kita dan menunjukkan pada mereka bahwa kita jauh lebih baik daripada mereka.

Sifat kompetitif memang baik untuk ditanamkan di hati kita untuk memacu usaha kita dalam melampaui apa yang sudah didapatkan oleh kompetitor- kompetitor kita. Tapi apa yang kana kita lakukan seandainya kita gagal untuk menjadi yang terbaik? Apa kalian akan menyalahkan diri kalian sendiri? Menjadi terpuruk? Apa ini yang dinamakan situasi dimana “Jalan Pintas Dianggap Pantas” kemudian segala cara kita legalkan demi mencapai gelar “Yang Terbaik” itu?

Jangan pernah menganggap menjadi yang terbaik itu berarti membanding-bandingkan kita dengan orang lain.  Jika yang kita lakukan hanya membanding-bandingkan diri kita dengan orang lain, kita hanya akan terjebak dalam siklus persaingan dan pengejaran terhadap kompetitor kita yang ingin kita saingi itu. Tidak ada yang mengatakan bahwa persaingan/sifat kompetitif itu dilarang, tapi apakah hidup kita hanya akan kita gunakan untuk berkutat dalam persaingan yang mungkin tidak ada habisnya itu?

Kali ini aku mau sedikit repost tentang sebuah cerita yang sempet aku baca di sebuah buku yang kalau nggak salah judulnya “Kisah Bill Gates & Lima Ekor Monyet”. Ceritanya simple tapi punya makna yang nggak simple.

Di buku itu diceritain tentang seorang raja & perdana menterinya. Si raja heran banget kenapa si perdana menteri punya sifat positif thinking yang nggak ada habisnya. Diem-diem si raja mulai ngerasa dongkol sama sifat perdana menterinya. Suatu hari si raja ngajak perdana menterinya ke hutan buat berburu hewan. Di tengah jalan gigi si raja ada yang copot, dan si perdana menteri tiba-tiba ngomong, “Wah, selamat paduka! Gigi Anda yang copot itu pasti akan membawa berkah untuk paduka.”. Si raja yang bener-bener dongkol langsung ngiket si perdana menteri terus si perdana menteri dimasukkin ke sebuah sumur. Kemudian si raja pergi ninggalin perdana menterinya di sumur.

Di tengah perjalanan si raja tiba-tiba dicegat sama sekumpulan orang dari suku pedalaman, si raja langsung diiket terus dibawa ke desa. Mereka bilang kalau si raja mau dijadiin korban persembahan buat Dewa Api. Si raja yang udah diiket kayak babi guling langsung dibawa ke puncak gunung berapi buat dimasukkin ke kawah gunung buat persembahan. Pas udah hampir dicemplungin si kepala suku tiba-tiba ngomong, “Tunggu, kita tidak bisa menjadikan orang ini sebagai persembahan. Dewa api tidak mau menerima orang yang anggota tubuhnya tidak lengkap!”. Si raja langsung sadar tentang giginya yang tadi copot. Orang-orang suku pedalaman langsung nglepasin si raja

Abis UTS langsung ada tugas kelompok Pancasila buat bikin paper sama presentasi. Tiap kelompok disuruh nentuin tema buat dibahas. Waktu itu aku ngusulin tentang kontroversi pemberian gelar pahlawan nasional 10 November kemarin, ada temen yang ngusulin tentang kedudukan TAP MPR yang disejajarin sama UUD, terus Bang Alex (bukan nama sebenarnya, sorry ya bang) bilang soal fenomena di Indonesia, yaitu “DERAJATISME”.

Oke, kita bakalan ngomongin sedikit tentang apa itu fenomena “Derajatisme”. Diliat dari namanya mungkin udah keliatan kalo ini ngomongin tentang derajat. Sekarang di Indonesia emang sering muncul kejadian-kejadian yang ada kaitannya sama derajat. Kalo dulu paling sering dibanding-bandingin antara maling ayam yang dipenjara paling nggak 3 tahun sama para koruptor kampret yang udah MALING duit rakyat banyak banget tapi cuma dikasih hukuman nggak nyampe setahun *sialan*.

Derajat emang nggak bisa jauh sama yang namanya DUIT. Duit itu bapaknya derajat, kalo nggak ada duit nggak bakalan ada derajat #heran. Pernah liat berita tentang napi cewek yang ruang penjaranya kayak hotel bintang lima (gilaaak, kamar gue aja bisa kalah ama penjara). Padahal nggak jauh dari situ, masih satu LP, ruangan napi lain itu cuma ruangan gelap kecil yang juga dijadiin tempat njemur baju sama napi-napinya (kreatif itu napi, sambil dipenjara njemur kolor). Fakta, yang punya duit walaupun udah di penjara tetep nggak mau disamain derajatnya sama napi-napi lain. “Gue berduit coy, walaupun gue dipenjara tetep donk harus nunjukkin derajat gue”. Emang nggak ada abisnya kalo ngomongin orang-orang atas yang udah kemakan sama duit mereka sendiri.

Pernah denger statement “Orang Miskin Dilarang Pintar, Orang Miskin Dilarang Berkarya”? WTF!! Statement gila! Kalo di kimia ini kayak Hukum Markovnikov “yang kaya diperkaya, yang miskin dipermiskin”. Yang bener itu “Yang Berkuasa Dilarang Semena-mena”. Pernah denger tentang bantuan buat orang-orang kurang mampu dari pemerintah yang namanya BLT? Dulu waktu realisasinya banyak orang-orang kurang mampu yang nggak kesentuh BLT sama sekali, malahan mereka-mereka yang bisa dibilang berkecukupan malah dapet jatah BLT.

Intinya hampir sama ama posting sebelumnya, di mata Yang Maha Kuasa semua manusia itu derajatnya sama. Jangan bersikap nggak adil, semua orang berhak dapet keadilan. Manusia itu makhluk sosial, nggak mungkin orang kaya bisa hidup tanpa orang-orang kecil. Membaurlah jangan memandang siapa mereka dan seberapa tinggi derajat mereka. Share the world!!